Kamis, 28 April 2016

Mengapa Anak-Anak Susah Untuk Dilepas

Permasalahan yang klasik yang selalu terjadi pada anak-anak adalah anak-anak susah untuk dilepas dari orang tuanya. Mungkin si anak dapat dilepas saat berada di suatu tempat atau bersama kelompok tertentu. Tetapi terkadang bersama kelompok yang lain, si anak tidak mau dan terlihat tidak menyukainya. Akibatnya si anak nempel kayak perangko, yang dilem dengan power glue, dengan mamanya dan mamanya jadi bete. Dan sebagai orang tua, terkadang kita begitu defensif dan menyalahkan situasi tanpa mau menganalisa terlebih dahulu cara untuk menyelesaikannya ataupun mencoba bekerja sama dengan keadaan yang ada.

Berikut artikel yang saya dapat dari Ministry-to-Children. Saya mencoba menerjemahkannya, permintaan dari teman saya, dan saya rasa kasus ini bukan hanya terjadi di sekolah minggu, tetapi dapat juga terjadi saat anak mengikuti les ataupun apapun yang membutuhkan kemandirian. 
----------------------------------------------------------------------------
       
Courtesy of Ministry-to-children
Mengapa Anak Tidak Menyukai Sekolah Minggu-4 Point Bagi Orang Tua

Anda adalah orang yang senang untuk datang ke gereja tetapi sayangnya anda harus tarik-menarik dengan balita anda saat membawanya ke sekolah minggu. Padahal balita anda senang saat ditinggal di daycare, playgroup, TK, dan bahkan saat harus mengikuti program yang tidak mengikutsertakan mamanya. Tetapi, saat hari Minggu, dia terlihat tidak senang.

Tidak ada yang tahu mengapa fenomena ini terjadi di gereja setiap minggunya. Orang tua dengan berkaca-kaca (saya pun pernah mengalaminya), berharap yang terbaik tetapi mengalami yang terburuk, terkadang meninggalkan anak yang histeris di kelas, tetapi dalam rentang waktu antara 10 hingga 20 menit anda menerima panggilan kembali. (Di luar negeri setiap orang tua dari batita yang dititipkan di sekolah minggu dilengkapi dengan pager untuk memanggil orang tuanya jika si anak menangis terlalu lama). Jadi, apakah yang harus dilakukan jika anak-anak anda tidak menyukai kelas sekolah minggu?

1. Ingatlah bahwa penyesuaian tiap anak berbeda.
Saya mempunyai dua anak laki-laki yang begitu berbeda bagaikan malam dan siang. Saat si sulung masih balita, sebuah kotak kosong dapat menghibur dia selama berjam-jam. Dia begitu damai, mudah untuk disenangkan dan tidak keberatan dengan kelas sekolah minggunya sedikitpun. Sebagai buktinya, saat masuk ke kelasnya, dia akan segera berkata, “Selamat tinggal, mami. Sekarang mami bisa pergi!” Tidak demikian dengan si bungsu. Dia menangis tentang segalanya di lima tahun pertama hidupnya. Jika saya harus menggunakan kamar mandi dalam waktu yang agak lama, sebaiknya saya melakukannya saat ayahnya ada di rumah. Sekolah minggu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan bagi si bungsu, tetapi dengan berjalannya waktu, dia dapat menyesuaikan. Dengan anak pertama, sekolah minggu tidak pernah menjadi tantangan. Sementara si bungsu akan lari ke pintu dan berpegangan pada kaki saya setiap saat saya mencoba untuk pergi. Walaupun anda begitu sabar dan mencintainya, meninggalkan anak di sekolah minggu dapat sangat mengganggu anda. Anda harus bersedia untuk menjalani proses yang cukup mengganggu ini.

2. Sekolah minggu adalah keputusan pribadi.
Tidak setiap orang tua mau untuk meninggalkan anaknya di kelas sekolah minggu-dan itu tidak masalah. That’s okay! Secara alami, sebagai pimpinan pelayanan anak di gereja saya, saya akan sangat senang melihat anak anda di sekolah minggu. Tetapi jika anda memutuskan bahwa sekolah minggu bukan untuk anda ataupun anak anda, itu adalah hal yang bukan masalah. Kecuali anda berkomitmen untuk itu, sekolah minggu hanya akan menjadi interupsi yang membuat anda bertambah stres.

3. Konsistensi adalah kata kuncinya.
Anda sudah bertemu dengan koordinator sekolah minggu dan crew-nya dan anda merasa bahwa sekolah minggu adalah pilihan yang tepat untuk anak anda. Maka tahap selanjutnya adalah konsistensi. Anak anda perlu untuk masuk dalam rutin yang ada, yaitu menghadiri gereja. Ketidakhadiran anak anda, walau hanya satu minggu, dapat menyebabkan proses penyesuaian lebih susah dan dapat memperpanjang waktu penyesuaian. Cobalah untuk selalu ada setiap minggu. (Saya tahu hal ini bisa jadi cukup susah, tetapi cobalah!)

4. Koordinasikan kriteria pemanggilan.
Di sekolah minggu kami, anak-anak tidak dibiarkan menangis dalam jangka waktu yang terlalu lama. Sangatlah tidak adil bagi anak lainnya dan juga bagi si anak yang menangis. Bagaimanapun juga, kami akan bekerjasama dengan orang tua untuk membuat kriteria pemanggilan lebih spesifik. Anda dapat mengirimkan orang lain, selama orang tersebut telah disetujui oleh koordinator sekolah minggu, atau dalam kasus ekstrim, anda dapat tinggal dalam kelas sekolah minggu pada jangka waktu tertentu. Ini hanya dapat dilaksanakan pada saat kelas dimulai dan anda harus meninggalkan kelas setelah beberapa menit. Mungkin anda dapat tinggal di kelas selama lima menit pada minggu pertama, empat menit pada minggu berikutnya, tiga menit pada minggu berikutnya, dan selanjutnya. Sesuaikan dengan keadaan anda.

Tergantung pada kebijakan dan ukuran gereja anda, anda juga dapat berpindah ruangan, menjadi sukarelawan di kelas sekolah minggu atau menunggu di hall. Saya menyarankan anda untuk memberi kesempatan untuk anak anda mengikuti sekolah minggu. Pastikan anak anda tidak sedang lapar, menggunakan pakaian yang nyaman. Dan pastikan anda telah memberi tahu kepada crew sekolah minggu hal yang disukai dan yang tidak disukai anak anda. Saya tidak pernah bertemu anak yang tidak berakhir dengan menyukai pelayanan sekolah minggu. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka akan menjadi anak yang menyukai sekolah minggu.

----------------------------------------------------------------------------

Dari artikel tersebut, terlihat juga peran orang tua. Seringkali orang tua berpikir jika si anak tidak betah di tempat A, berarti staf di tempat A tidaklah kompeten. Padahal banyak faktor yang harus diamati sebelum mengambil kesimpulan tersebut. Jika orang tua terlalu memaksakan untuk melepaskan anak dengan cepat, atau secara instan, bisa jadi si anak jadi trauma dan tidak mau mengikuti kelasnya lagi. Atau ada juga yang dengan cara seperti itu, anaknya bisa dilepas, tetapi akhirnya si anak menjadi anak yang semuanya di kelas. Oleh karena itu, penting sekali bagi si anak untuk merasa dia tidak ditinggalkan oleh orang tuanya dalam menjalani proses yang ada. Apalagi setiap anak adalah pribadi yang unik:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar